Rabu, 16 Februari 2011

The Painter Of The Wind eps 4

LUKISAN DARI SEKUMPULAN BIDADARI

Kim Hong Do membawa Yoon Bok ke seorang tabib, yang berkata bahwa ia baik-baik saja. Untuk tangannya, ia hanya butuh latihan membuka dan menutup tangannya beberapa kali sehari, menjaga tangannya tetap fleksibel. Ia juga perlu mengoleskan beberapa ramuan.
 

Ketika Yoon Bok telah siuman, Hong Do membawanya ke rumah Jung Sook dan memberitahunya untuk tinggal disana selama beberapa waktu. Yoon Bok berkata bahwa itu tidak perlu dan ia seharusnya tidak mencampuri urusannya lagi. Ia tidak mau kembali ke Dohwaseo. Ia bahkan tidak mau memanggilnya guru dan memanggil Kim Hong Do dengan sebutan “Kim hyung”
Hong Do tidak mau membiarkan Yoon Bok pergi. Ia memperingatkan, dengan tangan yang terluka seperti itu, tidak akan ada orang yang mau memperkerjakan atau membawanya. Melihat bahwa ia tidak punya pilihan lain, Yoon Bok berjalan mengikuti Kim Hong Do masuk kedalam rumah.
 

Tetapi, sejak berada disana, Yoon Bok menolak untuk makan atau berganti pakaian dan menghabiskan harinya hanya tidur saja. Kemudian ia  kedatangan tamu yang spesial: Young Bok.
Mereka berdua mengobrol dengan santai. Young Bok berusaha menghibur adiknya, dan memperlihatkan kepadanya beberapa bubuk pewarna dari Danchongso, yang ia buat sendiri. Ia memberitahunya bahwa ia baik-baik saja disana, Yoon Bok tidak usah mencemaskannya atau bersalah karena kepergiannya. Yoon Bok terlalu pandai untuk dibohongi, tapi ia sangat tersentuh. Young Bok bersikap sangat manis.
 

Dalam kehidupan yang sebenarnya di Danchongso, tidaklah menyenangkan seperti yang ia ceritakan. Ia disiksa disana karena berasal dari Dohwaseo dan dilecehkan berkali-kali. Tapi ia menahannya karena ini demi Yoon Bok.
Saat itu, Raja Jeongjo bertemu dengan utusan China. Ia telah menerima hadiah yang dikirim dari China (yang diberikan kepada Ibu Suri Jeong Sun). Raja Jeongjo ingin membalasnya. Ia memerintahkan Dohwaseo untuk menyerahkan lukisan yang akan dikirim ke China.
Di Dohwaseo, Hong Do berniat untuk melukis juga dan Jeongjo memberitahunya bahwa ia sangat menantikan lukisannya.
 

Tapi Byeok Soo menyuruh beberapa pelukis untuk membereskan barang-barang Hong Do karena ia akan dikirim ke Pyeongyang. Ketika Hong Do mengkonfrontasinya, Byeok Soo berpendapat bahwa ia telah selesai melakukan misinya, jadi dia harus pergi. Hong Do bertanya apakah ia takut dengannya. Byeok Soo mengejek tapi tidak memberi jawaban.
Hong Do menyatakan bahwa ia tidak akan pergi, ia sedikit berbeda dengan gurunya yang meninggal 10 tahun yang lalu. Saat ia melangkah pergi, Byeok Soo memberitahunya, karena Yoon Bok menghilang dari Dohwaseo, Yoon Bok boleh melakukan apapun yang ia mau tapi ia tidak dapat mengikuti ujian untuk menjadi pelukis istana.
 


Hong Do pergi mengunjungi Yoon Bok, yang masih bergelung di tempat tidur. Ia memaksanya untuk pergi keluar. Mereka berdua berjalan-jalan di pasar. Mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti: minum-minum, makan, mencoba kacamata, menonton adu ayam dan melihat hiasan yang cantik (Yoon Bok melihat hiasan yang berbentuk kupu-kupu, mungkin ini menyimbolkan sifat feminin dalam dirinya, dan kerinduannya untuk “terbang” dan merangkul sifat wanita dalam dirinya). Hong Do memberitahu Yoon Bok bahwa dulu ia juga ingin berhenti melukis. Ia menolak melakukan apapun dan menimbulkan masalah bagi semua orang. Semua sudah menyerah dan tidak mau memperdulikannya, kecuali gurunya yang sangat menderita karena dirinya. Yoon Bok tertarik dan bertanya kenapa ia melukis lagi.
Hong Do:” Aku tidak tahu.”
Yoon Bok:”Apa maksudmu, kamu tidak tahu?”
Hong do:”Apakah kamu pikir ayam jantan itu tahu kenapa mereka bertarung?”
Yoon Bok:”Apa?”
Hong Do:”Apakah kamu tahu kenapa kau makan makanan yang kau makan?...untuk pelukis, lukisan adalah makanan. Makanan! Kamu tidak bisa makan karena kamu tidak melukis....Jadi jangan memikirkan hal itru terlalu keras, melukislah saja. Karena  menurutku kamu lahir untuk melukis.”
 

Hong Do membawa Yoon Bok pulang. Keduanya sibuk dengan beberapa lembar kertas yang besar. Melihat kertas yang masih kosong, Hong Do bertanya,” Apakah kamu bisa melihatnya?”. Yoon Bok tidak melihat apapun, tapi Hong Do memberitahunya, apa yang mereka butuhkan sudah ada dalam kertas., atau dengan kata lain, lukisan sudah terlukis di kertas kosong itu. Yoon Bok mengejeknya dan Hong Do menunjukkan kepadanya. Dengan cepat melukis seseorang yang sudah tua. Setelah selesai ia bertanya lagi,”Apakah kamu bisa melihatnya?”
Yoon Bok masih tidak mengerti, Jadi ia terus melukis, mengulang pertanyaannya setiap kali ia selesai melukis seseorang yang lain, “Dapatkah kamu melihatnya?”
Akhirnya setelah lukisan ketiga, Yoon Bok menyadari bahwa ia melukis orang secara acak  yang mereka temui pada hari itu. Hong Do memberitahunya lebih mudah melukis sesuatu  dengan membayangkannya berada tepat di hadapan mereka. Tapi sangat penting untuk mengetahui bagaimana menangkap gambar dalam pikiranmu, dan mampu menggambarnya lagi. Seperti saat ia melukis garis yang tidak terlihat melewati tiga titik.
 

Terinspirasi, Yoon Bok memanggilnya guru lagi, Hong Do memegang sebuah lilin dan memberitahunya:
 “ Seperti sebuah sinar yang membentuk bayangan yang tak terbatas, sebuah garis mungkin berisi bentuk-bentuk yang berbeda dengan jumlah tak terbatas pula. Jika kamu dapat melihat bayangan itu, kamu akan dapat menangkap semuanya dalam lukisanmu”
Saat ia mengatakan ini, scene berubah. Yoon Bok kecil sedang mendengarkan ayahnya, yang mengatakan hal yang sama. Yoon Bok terkejut, sedikit tersentuh – seperti ayahnya berbicara kepadanya melaui Kim Hong Do melewati tahun yang telah berlalu. Hong Do memegangkan kuas padanya, bertanya,”Maukah kau melukis?”. Ia mengambilnya dengan ragu-ragu.
 

Dalam suasana yang indah, Hong Do membungkus tangannya ke atas tangan Yoon Bok untuk mengeratkan pegangannya pada kuas dan berkata,”Jangan takut.” Ia menuntun tangan Yoon Bok, keduanya melukis bersama dengan Yoon Bok yang terlihat terpengaruh kedekatan mereka. Ini sangat romantis.
 

Mereka berdua melukis semalaman, terus-menerus menabrak satu sama lain, sengaja mendekatkan wajah mereka satu sama lain, jatuh ke tanah, dan, setelah itu Yoon Bok sengaja memercikan cat pada satu bagian dari lukisan raksasa yang mereka kerjakan, Hong Do bercanda mengejarnya dengan sebuah sapu. Ini cara yang bagus untuk menunjukkan bagaimana mereka menjadi dekat, dan ketegangan romantis yang ada antara mereka.
 

Paginya, Yoon Bok bangun terlebih dahulu. Mereka telah menyelesaikan lukisannya, dan lukisan itu terlihat bagus. Ia melihat Hong Do yang sedang tidur, dengan gerakan yang lembut, ia memegang tangan Hong Do dan berbisik,”Terimakasih guru.”. Ia membawa tangan itu ke dahinya. Jung Sook tiba-tiba masuk ke dalam kamar, Yoon Bok kaget dan malu, ia menjatuhkan tangan Hong Do seperti menjatuhkan kentang.
Dengan semangat yang baru, ia menyerang sarapannya seperti orang yang belum makan bertahun-tahun. Sedikit menjijikkan melihatnya memasukkan semua makanan kedalam mulutnya.
 

Jeongjo sedang melihat lukisan yang telah dipersiapkan Dohwaseo, tapi ia tidak puas pada semua lukisan itu. Ia bertanya dimana lukisan Kim Hong Do, Byeok Soo memberitahunya bahwa Hong Do tidak mempersiapkan sebuah lukisan.
 

Tapi Hong Do datang ke istana dengan membawa lukisan yang dibuatnya bersama Yoon Bok. Ini Lukisan yang sangat terkenal “Kumpulan Dewa”. Jeongjo sangat menyukainya dan mengumumkan bahwa lukisan itulah yang akan dikirim ke China. Ia sedikit kecewa karena tidak dapat menikmati lukisan tsb lebih lama. Para Tetua dari Dohwaseo tidak terlihat senang.
Jeongjo mengatakan padanya bahwa ia sangat bersyukur karena ia telah kembali. Hong Do memberitahunya bahwa ia tidak membuat lukisan ini sendirian, tapi dibantu oleh siswanya Shin Yoon Bok. Ia ingin Yoon Bok dipromosikan sebagai pelukis istana. Jeongjo bertanya pada Byeok Soo pendapatnya. Byeok Soo beralasan, karena Yoon Bok melarikan diri dari Dohwaseo, maka mereka tidak akan menerimanya dengan mudah. Jeongjo membuat kesepakatan: Jika Yoon Bok dapat lulus ujian negara, maka ia akan dipromosikan, bila ia gagal maka Kim Hong Do akan kembali ke Pyeongyang.
 

Hari ujian tiba. Hanya satu orang yang akan lulus. Mereka diberi waktu sampai besok  siang untuk melukis.
Mereka diberi dua pilihan: lukisan yang menggambarkan suatu event yang terjadi pada pemerintahan Raja Yeongjo dan yang satunya adalah puisi ( yang menyebutkan udara, ayunan dan rok). Mereka harus mengerti dan melukis sesuatu yang menggambarkan puisi tersebut dengan benar.
 

Siswa yang lainnya mulai bekerja, siswa yang tertua menyebutkan bahwa tidak ada seorang pun yang memilih lukisan yang bertema puisi sebelumnya. Yoon Bok hanya duduk terdiam, merenungkannya lagi. Ia teringat kata-kata Hong Do,”Ciptakan lukisan yang hidup.” Ia tiba-tiba teringat Jeong Hyang. Ia berdiri dan meminta ijin untuk mencari obyek yang sesuai.
Sementara itu, Byeok Soo menyuruh salah seorang pelukis untuk memastikan Yoon Bok tidak lulus ujian apapun caranya. Ia ingin memastikan Hong Do kembali ke Pyeongyang.
 

Diluar, Yoon Bok bertanya pada sekumpulan wanita dimana tempat wanita bermain ayunan (juga mandi). Para wanita itu menggodanya, Yoon Bok berlari.
Saat ia sedang berlari, seorang gisaeng memanggilnya, sambil menggodanya. Yoon Bok bertanya apakah ia boleh bertanya padanya. Gisaeng itu mengiyakan – jika ia melukisnya. Yoon Bok berbalik pergi, merasa tidak tertarik...kemudian ia mendapat ide. Dengan genit ia berkata, Aku tidak bisa menggambar wanita ketika memakai bajunya.
Jadi ia membawa gisaeng itu pergi jauh di balik pohon, dimana gisaeng tersebut melepas bajunya satu persatu dan Yoon Bok memakainya. Ketika ia sudah berganti pakaian, ia melarikan diri, meninggalkan gisaeng yang hanya memakai pakaian dalam.
 

Yoon Bok berjalan di pasar, membuat gerakan yang aneh agar terlihat feminin. Benar-benar sangat lucu. Saat ia berjalan, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Hong Do yang mengikutinya dari Dohwaseo, tapi kehilangan jejaknya. Untung saja Kim Hong Do tidak mengenalinya, Yoon Bok pun segera pergi. Ia kembali menemui para wanita yang menggodanya, kembali bertanya letak ayunan. Mereka, yang juga tidak mengenalinya, menunjukkan arahnya.
Tak lama setelah Yoon Bok pergi, Hong Do bertemu dengan kelompok wanita yang sama dan bertanya apakah mereka melihat siswa seni lukis yang pendek. Mereka memberitahu bahwa mereka melihat satu orang yang bertanya dimana tempat ayunan berada, Hong Do pun segera mengikutinya ke sana.
 

Yoon Bok berhasil menyusup masuk ke tempat pemandian (pria dilarang masuk ke tempat pemandian itu), dimana para wanita bergantian bermain ayunan, mandi, bercakap-cakap dan pada umumnya menikmati indahnya hari. Ia telah menemukan subyek lukisannya.
 

Jeong Hyang pun datang. Merasa penasaran, Yoon Bok mendekatinya dan mengobrol ringan dengan berpura-pura sebagai wanita. Jeong Hyang bingung pada mulanya, tapi kemudian mengenalinya. Ia tetap mengikuti permainan Yoon Bok, sedangkan Yoon Bok merasa berhasil menipunya.
 

Ketika wanita yang sedang berayun selesai, Jeong Hyang mengusulkan untuk berayun bersama. Mereka menaiki ayunan bersama. Yoon Bok sedikit takut. Jeong Hyang menunjukkan bahwa ia mengenalnya dan berkata:” Pegang yang kuat...siswa pelukis. Ayunan pertama sangat penting.”
 

Keduanya berayun kedepan dan belakang, berhadapan satu sama lain, Jeong Hyang menatap ke arah Yoon Bok, sedangkan Yoon Bok memandang ke sekelilingnya dan mengubahnya menjadi lukisan dalam pikirannya. Setelah selesai berayun, Yoon Bok sangat senang karena memperoleh obyek lukisan.
 

Sementara itu, seorang pejalan kaki laki-laki sedang  duduk di bawah pohon tempat gisaeng terisolasi, ia sedang meratapi kenyataan bahwa ia tidak punya pacar. Gisaeng itu mencoba menarik perhatiannya, ia ingin meminta bantuan.
 

Hong Do menemukan cara untuk menyelinap masuk ke area pemandian. Ia mencuri pakaian dari seorang wanita yang sedang tidur, kemudian memakaianya. Ia menutupi mukanya, jadi tidak ada yang tahu kalau ia laki-laki. Ia menemukan Yoon Bok yang sedang melukis (dikelilingi oleh kerumunan wanita yang mengangguminya) dan memberi tahu kalau ia disana.
Yoon Bok melukis dengan teliti setiap detilnya. Drama ini sangat pintar menggunakan ketenangan sebagai simbol keseriusan dan konsentrasi. Ketika Yoon Bok melukis, semuanya menjadi tenang, bahkan suara air terjun pun tidak terdengar.
 

Tapi saat Yoon Bok melukis ayunan, tiba-tiba ia terdiam. Hong Do bertanya apa yang terjadi. Yoon Bok berkata bahwa ia tidak dapat melukis wanita itu, karena ia tidak mengerti perasaannya.
 

Tiba-tiba gisaeng yang ditipunya datang, berteriak, memberitahu bahwa Yoon Bok telah mencuri pakaiannya, dan dia adalah pria. Hong Do berusaha menenangkannya, tapi secara tidak sengaja kain penutupnya jatuh, samarannya terbuka. Hong Do berbohong bahwa ia menemani istrinya (Yoon Bok) yang sedang sakit yang ingin menikmati hari yang cerah. Gisaeng itu terus berteriak kalau Yoon Boklah yang mencuri pakaiannya.Tidak ada yang mempercayainya. Yoon Bok dan Hong Do berusaha melarikan diri, tapi Yoon Bok menjatuhkan pakaian laki-lakinya, mereka jadi ketahuan. Jeong Hyang berjanji akan merawat alat-alat lukis Yoon Bok. Yoon Bok dan Hong Do pun melarikan diri.


Source: (thanks and credits)
www.dramabeans.com
www.dramatomy.com
www.mysoju.com
http://www.bengawanseoul.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

coretan yanni Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template