Sabtu, 08 Januari 2011

Bread love and Dream episode 9 part 1


Jin Gu menangis minta maaf pada Tak Gu atas semua kesalahannya. Tak Gu tidak bisa terima, dia mencengkeram kerah baju Jin Gu dan bilang kalau Jin Gu tidak perlu minta maaf, Tak Gu hanya ingin mendengar kalau ibunya selamat dan baik-baik saja. Jin Gu semakin terisak, dia sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu Tak Gu dan membuatnya "tewas". Tak Gu sangat shock, terpukul, tidak siap dengan "kenyataan" ini, hatinya hancur, harapannya hilang dan dia hanya bisa menangis dan meraung keras. Mi Sun ikut sedih melihat Tak Gu sangat terpukul. Raungan Tak Gu bahkan terdengar sampai lantai bawah, semuanya heran mendengar tangisan Tak Gu, Bos Yang yang mengerti keadaan Tak Gu merasa sedih juga. Presiden yang akan masuk mobil juga mendengar raungan Tak Gu, tapi dia tidak terlalu yakin. (ya ampun pak.. ntu anakmu yang lagi nangis tau!! Kalo udah kayak gini, ga perlu bilang aku ikut nangis)
Flashback
Ketika Jin Gu masih ada di penjara, Bos Yang memberikan kursus membuat roti kepada para napi. Itulah pertama kalinya mereka bertemu. Bos Yang mendatangi Jin Gu yang diam saja, padahal napi lain sudah membuat adonan roti. Jin Gu bilang kalau dia tidak mau membuat roti, Bos Yang heran. Saat Bos Yang menanyakan nama Jin Gu, Jin Gu bilang kalau dia tidak punya nama.
Akhirnya, setelah Jin Gu keluar dari penjara, Boss Yang [yang saat itu masih belum jadi bos] membawa Jin Gu menghadap Kakek Bong. Jin Gu memohon pada Kakek Bong untuk menerimanya karena dia ingin belajar [baca : bertobat], “Maafkan aku guru, meskipun aku merasa tidak punya kemampuan, tapi aku masih punya mimpi untuk membuat roti”. Kakek Bong semula tidak terlalu tertarik, tapi begitu melihat ada tato kincir angin di lengan Jin Gu, dia kaget dan langsung teringat pada Tak Gu kecil yang mencari pria bertato kincir angin agar bisa menemukan ibunya. Kakek Bong menanggapi,”Alasan pria ini sungguh menarik”. Jin Gu tidak mengerti maksud kata-kata kakek tersebut.
Flashback end
Ternyata Jin Gu sedang "curhat" pada Kakek Bong, dia sangat menyesal telah membuat Tak Gu menderita selama belasan tahun ini. Jin Gu juga menyadari bahwa Kakek Bong dulu dengan mudah menerimanya menjadi murid di Pal Bong Bakery karena sudah tahu kasus tentang Tak Gu dan dirinya. Seperti biasa, Kakek Bong menanggapi diplomatis dan bijaksana,"Ketika kau memulainya, kau juga dapat mengembalikannya, Itu sangat jelas". Air mata Jin Gu mengalir tanpa dapat ditahan, dia menangis terisak. Jin Gu tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan agar Tak Gu bisa memaafkannya. Kakek meminta Jin Gu untuk menunggu, karena kelak akan tiba waktunya bagi Jin Gu bisa melakukan hal yang baik bagi Tak Gu. (ya… sabar saja Jin Gu oppa, aku mendukungmu, jangan menyerah)
Tak Gu masih saja berdiam diri di dapur dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Malam hari di kediaman presiden, para penjaga memeriksa keadaan dan tidak menyadari bahwa ada orang [Tak Gu] yang menyelinap masuk. Tak Gu berdiri di halaman, mengamati rumah besar itu dan siap dengan kayu di tangannya. Dengan amarah yang berkobar dalam darahnya, Tak Gu masuk ke rumah itu dan bertemu dengan Nyonya Seo yang tidak mengenali Tak Gu. Nyonya Seo mengira Tak Gu adalah pencuri. Dia tanya siapa Tak Gu. Tak Gu menjawab berapi-api penuh emosi: Kau melupakanku begitu cepat? Ini aku, Nyonya. Anak Kim Mi Sun dari Cheongsan, Kim Tak Gu. Nyonya Seo sangat shock mendengar perkataan Tak Gu. Tak Gu : Kau yang melakukannya, benar kan? [Membunuh ibunya] Menyuruh orang untuk menculik ibuku, iya kan? Nyonya Seo tidak mengerti apa yang Tak Gu bicarakan. Tak Gu sudah tidak sabar dan akan mengayunkan kayunya di depan Nyonya Seo ketika Manager Han datang dan memperingatkan Tak Gu dengan ancamannya. Tak Gu tidak takut dan tidak percaya lagi dengan kata-kata Manager Han, dia benar-benar marah dan mulai menghancurkan perabotan yang ada di dalam rumah itu dengan kayu yang dibawanya. Nyonya Seo sudah kembali percaya diri dan menghentikan Tak Gu, dia menghina Tak Gu dan dengan berani menantang Tak Gu. Tak Gu siap akan memukul Nyonya Seo dan kata-kata Kakek terngiang di kepalanya [baca ep 8] dan tangannyapun terhenti.
Dan...semua keributan itu hanya ada dalam benak Tak Gu. Kenyataannya, Tak Gu tidak bisa melawan hati nuraninya untuk bertindak sejahat itu, membalas dendam bukan sifatnya. Dia juga masih memegang teguh prinsip ajaran dari ibunya kalau kebaikan yang akan menang. Tak Gu menjatuhkan kayunya dan terduduk lemas, matanya berkaca-kaca memikirkan nasib ibunya yang malang. (akting Yoon keren tenan!!) Penghuni di dalam mansion mewah itu bahkan tidak pernah menyadari keberadaan Tak Gu malam itu.
Tak Gu teringat sesuatu dan dia mendatangi rumah workshop kenangannya bersama presiden. Presiden sedang melakukan ritual untuk mengetahui kelembaban udara. Tak Gu mengintip dari balik rerimbunan pohon. Setelah selesai, presiden berkata sendiri “Ini untuk mengecek kelembaban udara” dan kemudian berbalik seakan menatap “sesuatu”. Presiden tersenyum pada kekosongan. Tak Gu heran dengan kelakuan Presiden, karena di sana tidak ada sseorangpun kecuali presiden dan dirinya. Ternyata presiden sedang mereka ulang kenangannya dengan Tak Gu. Saat Tak Gu masih kecil, presiden pernah mengajari Tak Gu tentang perlunya mengetahui kelembaban udara agar bisa menghasilkan roti yang enak. Presiden tersenyum mengingat semua itu, tapi sesaat kemudian dia merasa sedih dan akhirnya masuk ke rumah workshop. (I wonder, he always doing this every night) Tak Gu menyaksikan semuanya juga dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu mengikuti presiden masuk ke rumah workshop.
Di dalam rumah workshop, presiden sedang membuat adonan roti seperti biasanya. Dan Tak Gu mengintip kegiatan presiden [sama persis saat Tak Gu kecil mengintip presiden untuk pertama dan terakhir kalinya], masih sambil membawa kayu di tangannya. Dia ingat semua kenangannya bersama presiden saat membuat roti dulu dan pengakuan presiden kalau Tak Gu adalah anak yang sangat spesial bagi presiden, kenangan itu berhasil meluluhkan hatinya yang terbakar amarah. (Arghhhhh… justru aku yang ngacak-acak rambut ngeliat semua itu, gemess!!) Dengan mata yang masih berkaca-kaca Tak Gu pasrah, dia menjatuhkan kayunya dan pergi dari rumah itu. Presiden kaget mendengar suara gaduh karena kayu jatuh, dia melepas celemeknya dan pergi memeriksa, tidak ada siapapun di sana dan presiden menemukan kayu di lantai. Tak Gu berjalan meninggalkan mansion itu dengan gontai, menundukkan kepala.
Di Pal Bong Bakery, semua [minus Tak Gu] bersiap dengan posisi masing-masing. Bos Yang memberikan catatan tugas mereka hari itu, sampai pada posisi Tak Gu, Bos Yang menyimpan kembali catatannya. (Wah sayang, padahal hari itu Tak Gu udah diberi tugas resmi di dapur oleh Bos Yang, tapi siapa juga yang bisa tahan satu kerjaan dengan orang yang “dianggap” sudah menyengsarakan hidupnya belasan tahun, just wait and see ^_^) Setelah ber haik-haik ria, semua bekerja dengan rajin, hanya saja Jin Gu sesekali memandang tumpukan sak tepung dan mencari keberadaan Tak Gu, kalau-kalau Tak Gu muncul terlambat. Mi Sun juga melakukan hal yang sama, tapi harapan mereka sia-sia karena Tak Gu tidak juga muncul.
Mi Sun menemani Kakek Bong yang sedang menyiram bunga. Mereka berdua ngobrol nyambung ga nyambung satu sama lain.
Mi Sun : Sepertinya dia tidak akan datang. Dia tidak akan kabur begitu saja ke suatu tempat kan. Apakah kakek mencurigai sesuatu?.
Kakek Bong : Tahun ini semua bunganya benar-benar cantik.
Mi Sun : Benar. Mungkin saja dia menyerah dan putus asa, lalu terjun ke sungai atau menabrakkan diri ke kereta.
Kakek Bong : Aigoooo bunga itu hampir mati ketika pertama kali di pindah ke sini. Sekarang, semuanya tumbuh dengan sangat baik.
Mi Sun : Bukankah kita harus memeriksa kantor polisi? Dia mungkin terbaring sendirian di suatu tempat, Kek.
Kakek Bong : Bunga-bunga ini tidak bisa bicara, tetapi dapat bertahan dari kerasnya musim, musim dingin dan masih bisa hidup seperti ini. Dan kau berbicara tentang kehidupan manusia. Mi Sun: Benar, tentang kehidupan, dia mungkin akan mati setiap saat, Kek.
[Maksudnya Kakek kan, bunga aja bisa survive hingga masih dapat tumbuh dengan baik apalagi manusia seperti Tak Gu, apalagi Kakek mengenal betul seperti apa kepribadian Tak Gu selama ini, jadi mungkin Kakek paham dengan jalan pikiran Tak Gu] Kakek lalu bertanya apakah Mi Sun mengkhawatirkan Tak Gu, Mi Sun kaget dengan pertanyaan Kakek itu dan menyanggahnya, lalu pergi karena malu (Mi Sun udah mulai suka ama Tak Gu tuh, makanya perhatian)
Sementara itu, orang yang dibicarakan ternyata sedang [mencoba] tidur di stasiun kereta. Tapi Tak Gu terganggu dengan suara berisik dari seorang bapak-bapak yang sedang marah dan memukuli putrinya. Semula Tak Gu acuh dan mencoba tidak terpengaruh dengan suasana itu, tapi saat mendengar anak bapak itu meminta maaf, dia langsung teringat pada Yu Kyung kecil yang dulu juga sering dipukuli ayahnya.
Tak Gu tidak tahan lagi dan suaranya sudah keluar mau menghentikan bapak itu, tapi… teriakannya terputus oleh kedatangan gadis yang [tidak] dikenalnya dan langsung marah-marah juga ke bapak itu karena sudah semena-mena pada putrinya sendiri. Bapak itu tidak terima diomeli oleh “anak bawang” Yu Kyung dan sudah bersiap melayangkan pukulannya untuk Yu Kyung yang langsung ditahan oleh Tak Gu. Tak Gu membela Yu Kyung. Tak Gu berusaha jadi pahlawan, tapi malah jadi pahlawan kesiangan (hehehe… kasian Tak Gu) Yu Kyung yang trauma dengan kekerasan ayahnya melampiaskan semua kekesalannya dengan memukul-mukul bapak itu pake tasnya. Mereka berdua rebutan tas hingga akhirnya semua dokumen di tas Yu Kyung keluar dan berserakan di mana-mana. Bapak itu akhirnya tahu kalau Yu Kyung adalah aktivis organisasi terlarang dan memanggil polisi.
Yu Kyung lari kencang mengetahui ada polisi di situ, Tak Gu yang melihat Yu Kyung lari, ikutan lari [sebelumnya dia membereskan dokumen Yu Kyung dengan cepat dan mengambil tas Yu Kyung] dan menyusul Yu Kyung. Tak Gu berhasil mengejar dan menggandeng Yu Kyung saat lari, Yu Kyung sebenarnya kaget tapi mereka tetep lari. Yu Kyung tidak sadar kalau topinya terjatuh di jalan saat mereka lari dari kejaran polisi. Mereka akhirnya bersembunyi di suatu tempat hingga polisi-polisi pergi. Tak Gu dan Yu Kyung kelelahan dan terengah-engah. Tak Gu kagum dengan Yu Kyung yang berani berhadapan dengan paman kasar tadi dan bertanya apakah Yu Kyung ikut kegiatan Tae Kwon Do, Ju Do atau Tak Gu [tenis meja]. Awalnya, Yu Kyung tidak terlalu menggubris kata-kata Tak Gu, tapi dia agak terkejut saat Tak Gu menyebut kata Tak Gu. Ketika Yu Kyung melihat ke arah Tak Gu sekilas, Tak Gu melihat ada luka di muka Yu Kyung, Tak Gu tanya siapa yang memberi luka itu, apakah paman kasar yang tadi. Yu Kyung menjawab skeptis pertanyaan Tak Gu,”Jika aku bilang ya, apa yang akan kau lakukan? Bisakah kau membunuhnya? Orang yang melakukan ini padaku, bisakah kau kembali dan membunuhnya?”. Tak Gu kaget mendengar jawaban Yu Kyung itu karena kata-katanya sama persis seperti yang diucapkan Yu Kyung kecil padanya waktu dulu. Melihat Tak Gu yang terdiam, Yu Kyung berlalu pergi dan kesal karena topinya hilang.
(Ini Indonesia banget nih, slow motion, sadarnya lamaaa) Akhirnyaa Tak Gu sadar kalau mungkin saja gadis yang bersamanya tadi adalah Yu Kyung, dia teriak memanggil nama Yu Kyung (tapi Yu Kyung sudah keburu bablas tuh). Tak Gu berlari mencari Yu Kyung dan menemukan topi Yu Kyung (kebetulan yang gampang diduga). Mata Tak Gu melebar membaca nama di topi itu [Universitas Korea, Jurusan Sosiologi Angk 84, Shin Yu Kyung] Kali ini Tak Gu benar-benar yakin kalau gadis tadi adalah Yu Kyung, semakin kuat pulalah tekadnya menemukan Yu Kyung. Dan… ketemulah Yu Kyung, tapi Yu Kyung sudah naik ke kereta dan pintu sudah tertutup pula. Tak Gu mencoba teriak manggil-manggil nama Yu Kyung tapi Yu Kyung [tentu saja] tidak dengar. Tak Gu juga mencoba menyusul kereta itu, tapi dia kalah cepat. (backsoundnya keren nih, bikin goyang-goyang pala tapi lupa yang nyanyi sapa)
Yu Kyung sudah sampai di kampus dan langsung menuju aktivis cornernya. Ja Rim yang juga jadi aktivis [pemula] menanyakan topi Yu Kyung. Yu Kyung bilang kalau topinya hilang. Dan yang kecewa justru Ja Rim, karena menurut Ja Rim topi lusuh Yu Kyung itu topi keberuntungan. Ja Rim lalu berbisik dan menyelipkan undangan perayaan ulang tahun perusahaan Geo Sung ke tas Yu Kyung. Ja Rim minta Yu Kyung hati-hati karena dia tidak mau aktivis lain mengetahui hal ini. [Aktivis sosial yang diikuti Yu Kyung dan Ja Rim ini kayaknya concern pada penderitaan rakyat miskin yang terus ditindas oleh orang-orang kaya. Dan Ja Rim ini kan anak orang yang sangat kaya] Ja Rim memohon agar Yu Kyung bisa datang, Yu Kyung akan datang karena dia berharap bisa bertemu dengan Tak Gu [yang dia kira tinggal bersama dengan keluarga Geo Sung] karena Ja Rim bilang saudara laki-lakinya yang kuliah di Jepang juga akan pulang dan hadir dalam pesta [padahal kan yang dimaksud oleh Ja Rim itu Ma Jun, bukannya Tak Gu. Yu Kyung tidak tahu kalau Ja Rim punya dua saudara laki-laki]
(Pas nulis sinop ini baru benar-benar tahu kalau setting Baker King itu tahun 80-an. Salut banget sama kru properti Baker King, soalnya barang-barang yang digunakan bener-bener jadul tapi masih keliatan kinclong-kinclong dan natural)
Ma Jun melihat heran pada Paman Gap Soo dan Jae Bok yang menguping pembicaraan [baca : pertengkaran] antara Bos Yang dan istrinya. Nyonya Bos (aku lupa nama istrinya) kesal pada suaminya yang tidak mau datang ke acara ulang tahun perusahaan Geo Sung meskipun Presiden Gu sudah datang sendiri menyampaikan undangan dan hari itu toko juga tutup. Bos Yang tetap berkeras kalau dia tidak mau datang. Bos Yang juga kesal dan mengancam akan tidur di luar, istrinya panik dan merayu Bos Yang agar tidur di kamar, dia tidak mau para pegawai tahu pertengkaran mereka. Paman Gap Soo dan Jae Bok lalu bergosip kalau Bos Yang tidak mau datang karena dia cemburu pada Presiden Gu. Paman Gap Soo cerita kalau sebenarnya istri Bos Yang dulu itu sangat menyukai Presiden Gu. Ma Jun mendengarkan gosip itu tanpa ekspresi.
Ma Jun pergi ke dapur Pal Bong Bakery dan melihat Mi Sun yang sedang berlatih membuat cake ke-14nya (kayaknya dia mau nggodain Mi Sun aja deh) Mi Sun kaget dengan kemunculan Ma Jun yang tiba-tiba. Mi Sun tambah terkejut saat Ma Jun dengan seenak udelnya mencolek cream cake Mi Sun yang berharga dan mencicipinya.
Mi Sun kesal, tapi Ma Jun dengan cepat memberikan komentar cake buatan Mi Sun. Mi Sun jadi penasaran dan dicolek jugalah cake ke-14nya itu. Mi Sun kagum dengan pengetahuan Ma Jun tentang cream cake yang luas dan heran kenapa Ma Jun mau belajar di tempat yang sederhana seperti Pal Bong Bakery padahal sebelumnya dia belajar di luar negeri. Ma Jun menjelaskan kalau dia hanya ingin belajar di tempat ayahnya dulu belajar. Lalu Ma Jun melihat masih ada sisa cream yang menempel di bibir Mi Sun. Ma Jun dengan gaya playboynya mendekat ke arah Mi Sun, mengusap lembut sisa cream itu dan menjilatnya!! (yang ini sih bukan romantis tapi malah bikin aku illfeel) Mi Sun kaget setengah mati dengan yang dilakukan Ma Jun. Dia kira Ma Jun mau berbuat yang macam-macam, Mi Sun panik dan mondar-mandir ke sana ke mari. Ma Jun justru terlihat sangat tenang dan biasa saja. Kemudian, dengan senyum mautnya dia mendekatkan mukanya lagi ke muka Mi Sun hingga tinggal beberapa senti. Setelah itu Ma Jun keluar, membuat Mi Sun malu dan berbunga-bunga (Mi Sun ini lucu, dia kalau malu suka megang pipinya ^__^) Ma Jun puas menggoda Mi Sun dan tersenyum manis.
Manager Han menunggui Nyonya Seo yang sedang fitting baju untuk perayaan 30 tahun Geo Sung. Ketika Nyonya Seo keluar dari ruang ganti dengan gaun mewahnya, Manager Han terkesima dengan kecantikan dan keanggunan Nyonya Seo (Mami yang ini emang cantik sih) Nyonya Seo menanyakan keberadaan Ma Jun. Manager Han meminta Nyonya Seo untuk bersabar karena Ma Jun sedang berusaha untuk menunjukkan kemampuannya pada presiden.
Meski hari itu pesta ulang tahun Perusahaan Geo Sung, Presiden Geo masih saja sibuk berkutat dengan pekerjaannya, kemudian Direktur Choi datang ingin membicarakan sesuatu dengan Presiden Geo. Presiden menyambut Direktur Choi dengan hangat dan ramah. Direktur Choi menyerahkan surat pada Presiden Geo dan bilang kalau dia sudah melepaskan sahamnya di Geo Sung. Presiden Geo belum paham dengan maksud Direktur Choi karena seharusnya jika ada pemegang saham yang mau menjual sahamnya, maka yang akan membeli adalah Geo Sung sendiri. Direktur Choi lalu menjelaskan kalau yang membeli sahamnya itu adalah Nyonya Seo makanya dia langsung setuju untuk melepas sahamnya. Presiden Geo tampak emosi.
Nyonya Seo dan Ja Rim bersiap untuk pesta dan Presiden datang dengan kesal. Presiden tanpa ba bi bu langsung meminta Ja Rim meninggalkan mereka berdua karena dia mau bicara dengan Nyonya Seo. Manager Han lalu membawa Ja Rim keluar ruangan. Saat sudah berdua, Presiden Geo marah mengetahui Nyonya Seo membeli saham dari Direktur Choi. Nyonya Seo membela diri, itu semua dia lakukan karena suaminya tidak juga menghapus nama Gu Hyung Jun [Tak Gu] dari kartu keluarga jadi dia akan menggunakan kekuasaannya sendiri. Jika presiden mau menghapus nama Tak Gu, maka Nyonya Seo bersedia memberikan semua saham yang dia punya untuk presiden.
Keadaan semakin memanas dan Ja Kyung datang mengingatkan mereka untuk segera keluar karena para tamu sudah menunggu. Nyonya Seo lalu berkata bahwa tidak sopan, tuan rumah membuat tamunya menunggu terlalu lama dan dia merangkul lengan presiden. Namun, Presiden langsung melepaskan rangkulan tangan Nyonya Seo dan keluar sendirian. (rasakan!!) Ja Kyung hanya diam melihat ketidak akuran kedua orang tuanya itu dan keluar mengikuti Presiden. Nyonya Seo geram dengan respon Presiden yang menolaknya mentah-mentah di depan anak mereka.
Tak Gu berusaha mencari informasi tentang Yu Kyung dengan mendatangi kampusnya dan bertanya pada mahasiswa di kampus itu. Setelah diberi info, Tak Gu mengucapkan terima kasih pada mereka dan tersenyum bilang kalau mereka akan diberi berkah yang banyak (so nice Tak Gu yaa… ^__^) Tak Gu jalan menaiki tangga menuju aktivis corner nya Yu Kyung, saat itu dia melewati seorang gadis yang rambutnya tergerai [Yu Kyung] tapi Tak Gu belum ngeh. Setelah beberapa saat Tak Gu merasakan ada “magnet” dan ngeh kalau yang dilewatinya tadi adalah Yu Kyung. Dia tersenyum melihat wanita yang dirindukannya itu dan mengikuti di belakang Yu Kyung.
Yu Kyung juga tidak sadar kalau dia diikuti oleh Tak Gu. Tak Gu terus tersenyum dan tidak pernah melepaskan pandangannya dari Yu Kyung (ihhh…membuatku panas!!) Ketika Yu Kyung menoleh ke arah Tak Gu, Tak Gu yang belum mau dikenali langsung menundukkan mukanya. Tapi, saat Tak Gu menoleh lagi, Yu Kyung sudah tidak ada. Rupanya Yu Kyung sudah keluar dari kereta, saat itu pula Tak Gu dengan cepat juga keluar menyusul Yu Kyung.
Tak Gu membuntuti Yu Kyung sampai hotel tempat diselenggarakannya pesta Geo Sung. Tak Gu terus berjalan, tapi dia berbalik lagi dan membaca papan informasi “Perayaan Ulang Tahun Perusahaan Geo Sung Yang Ke-30” Tak Gu membeku, dia bimbang antara mengikuti Yu Kyung atau menunggu saja di luar karena dia tidak ingin terlihat oleh keluarga Geo.
Laluuu... apakah Tak Gu akan berhasil bertemu Yu Kyung saat itu? Tubi kontinyyuuuttt Part 2 ^__^
 
credit  : pelangidrama.blogpspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

coretan yanni Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template