Sabtu, 08 Januari 2011

Bread love and Dream episode 11 part 2

 
Tapi Tak Gu tetap tidak bisa membiarkan Yu Kyung dibawa oleh polisi-polisi itu, hingga akhirnya dia benar-benar meninju polisi itu hingga pingsan. Mi Sun menutup matanya, kesal. Yu Kyung juga kaget dengan reaksi Tak Gu. Setelah meninju polisi itu, Tak Gu terdiam, hujan turun. (kenapa selalu ada scene hujan turun ya?)Semua staff Pal Bong Bakery merasa kecewa dengan Tak Gu, tapi tidak dengan Ma Jun yang tersenyum sinis. Hal yang tidak diketahui Ma Jun adalah ternyata Kakek melihat senyuman sinisnya dari seberang rumah Pal Bong Bakery. (Ya ampun Ma Juunnn... bener-bener deh, ga habus pikir juga aku ama sifatnya dia)
 
Tak Gu akhirnya dimasukkan ke penjara.
 
Yu Kyung juga dibawa ke ruang interogasi, dia berpapasan dengan Manager Han yang menjemput Ja Rim. Ja Rim akhirnya bebas, Yu Kyung memanggil Ja Rim, tapi Ja Rim pura-pura tidak mengenal Yu Kyung, dia terus jalan tanpa menghiraukan Yu Kyung. (Ja Rim masih ketakutan tuh, ntar kalau dia nyapa Yu Kyung  takut ditangkap lagi)
 
Ja Rim pulang ke rumah mewahnya, Nyonya Seo menyambut Ja Rim dan shock melihat putrinya itu begitu pucat. Ja Rim memanggil ibunya dengan lemas dan langsung memeluk ibunya, Ja Rim lalu pingsan. Ja Rim diperiksa oleh seorang dokter, Nyonya Seo menanyakan keadaan Ja Rim. Dokter itu mengatakan kalau Ja Rim sudah tidak tidur beberapa hari, jadi dia sensitif dan mengalami dehidrasi. Di saat seperti itu, Nyonya Seo justru ngomel-ngomel pada Ja Rim yang masih lemas, Dokter menasehati Nyonya Seo agar membiarkan Ja Rim untuk istirahat dulu. (wajar juga ding kalau ngomel, namanya juga seorang ibu)
Setelah selesai memeriksa, dokter itu bangkit dan ternyata dia adalah Dokter Yoon, (ingat ga chingu? dia adalah dokter yang nolong ibunya Tak Gu waktu melahirkan dulu) Manager Han sempat terkejut saat melihat wajah Dokter Yoon. (tapi dia ga langsung ngenalin dokter Yoon, Manager Han lupa-lupa ingat tuh)
Manager Han turun dan melihat Dokter Yoon sedang berbicara dengan Bibi Gong. Manager Han lalu mendekati Dokter Yoon,”Tunggu sebentar dokter. Aku tidak pernah melihat anda sebelumnya, nama anda?”, tanya Manager Han ingin memastikan. “Anda bisa memanggil saya Dokter Yoon”, jawab Dokter Yoon tetap tenang tanpa melihat mata Manager Han. Dokter Yoon menjelaskan kalau dia menggantikan Dokter Ju [dokter keluarga GeoSung sebelumnya] untuk mengurus kesehatan keluarga Geo, dan Nyonya Seo sudah mengijinkannya. Dokter Yoon lalu pamit, tapi Manager Han menahannya lagi dan bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Dokter Yoon sempat terpaku, dia berbalik dan menjawab pertanyaan Manager Han dengan mantap,”Tidak, saya kira saya belum pernah melihat anda sebelumnya, tapi kita mungki n berpapasan saat di rumah sakit, Saya sudah bekerja di rumah sakit Direktur Ju selama lima tahun.” Manager Han mengerti, meskipun dia masih merasa curiga, Dokter Yoon lalu pamit pulang.
Nyonya Seo memanggil Bibi Gong, Bibi Gong menyahut. Nyonya Seo marah karena Bibi Gong masih saja memanggilnya nyonya muda, padahal nyonya besar [nenek] sudah lama meninggal. Nyonya Seo menyuruh Bibi Gong membuat hidangan Prancis untuk menyambut kepulangan Ja Rim ke rumah. Manager Han pamit pergi ke kantor pada Nyonya Seo, Nyonya Seo menitip pesan agar Presdir bisa pulang lebih awal.
 
Kakek mendatangi Ma Jun yang sedang ada di dapur Pal Bong Bakery. Kakek melihat ada adonan di meja dan bertanya pada Ma Jun,”Apa itu?”. “Itu adalah adonan yang rusak tadi pagi. Aku mengambilnya untuk latihan”,jawab Ma Jun. Kakek mengerti dan menyuruh Ma Jun untuk segera berlatih, Ma Jun bingung dan terlihat sedikit gugup. Kakek menyuruh Ma Jun untuk segera berlatih di depannya karena kakek ingin melihat. Ma Jun mengerti dan langsung berlatih dengan adonan rusak tadi. Ma Jun memang sangat cekatan dan terampil, gerakannya sudah seperti ahli roti sungguhan. Kakek sudah cukup melihat dan meminta Ma Jun berhenti.
Kakek : “Melihat betapa tanganmu cekatan dan cepat, kau memang terampil. Tetapi… roti adalah sesuatu yang dimakan oleh orang”. Ma Jun menganggukkan kepala mengerti.
Kakek : “Lalu, kenapa kau memakai pisau dalam hati orang yang membuat roti?”. Kali ini Ma Jun tidak mengerti maksud perkataan kakek. Kakek bertanya lagi dengan pandangan mata yang menusuk,”Apa kau bertanya karena kau tidak tahu?”. Kakek tampak kecewa dengan Ma Jun dan berkata lagi ”Aku akan tanya lagi padamu, apakah adonan di depanmu itu hidup atau mati?”. Ma Jun diam tak menjawab pertanyaan kakek. Kakek sudah hilang kesabaran pada Ma Jun hingga dia berteriak seraya menggebrak meja,”APAKAH ITU HIDUP ATAU MATI?”. Ma Jun gugup, tidak tahu harus menjawab apa.
Kakek melanjutkan [dan kali ini lebih lunak] : Bagi orang-orang biasa, mungkin itu hanya tepung dan adonan. Tapi untuk pembuat roti seperti kita, adonan itu adalah sesuatu yang hidup! Dan tadi malam, kau sudah membunuh semua makhluk hidup itu! Kau melakukan apa yang seharusnya tidak pernah dilakukan oleh pembuat roti!!
Ma Jun menampakkan muka kebingungan lagi. Kakek lalu mengeluarkan sapu tangan yang bernoda darah dan melemparkannya di depan Ma Jun. Ma Jun sangat terkejut melihat sapu tangan itu ada di tangan kakek.
Flashback
Setelah mengobrak-abrik dapur Pal Bong Bakery, Ma Jun keluar dan meninggalkan sapu tangan yang digunakannnya untuk mengelap jarinya yang berdarah. Ma Jun dengan cerobohnya meninggalkan bukti bahwa dia yang membuat dapur PBB seperti kapal pecah. Kakek yang mendengar keributan malam itu keluar dari rumah dan menemukan sapu tangan bernoda darah Ma Jun! Kakek langsung tahu kalau pemilik sapu tangan itu adalah Ma Jun, karena hanya Ma Jun satu-satunya orang yang memiliki sapu tangan mahal itu.
Flashback end
Kakek benar-benar marah pada Ma Jun, tapi Ma Jun dengan beraninya justru bilang,”Apakah anda akan menendangku keluar dari sini?”. Kakek menghela nafas tak percaya Ma Jun bisa bilang seperti itu.
Kakek : “Kau datang kemari karena kau ingin mendapatkan sertifikat pengakuanku?”. Ma Jun mengiyakan. Kakek : “Lalu, apakah kau ingat kalau untuk mendapatkan sertifikat itu, kau harus lulus tiga ujian?”.
Ma Jun mengiyakan lagi. Kakek : “Jadi, dua tahun dari sekarang. Jika kau bisa menunggu hingga waktu dua tahun itu, Aku akan mengijinkanmu mengikuti ujian itu”. Ma Jun protes dan tidak terima karena dia mendapat surat jawaban dari kakek yang menyatakan kalau dia bisa mengikuti ujian sertifikat itu tahun ini. Kakek menjelaskan kalau itu adalah hukuman untuk Ma Jun, hukuman karena melupakan kewajibannya sebagai seorang pembuat roti dan sudah membunuh adonan yang hidup, juga hukuman karena Ma Jun sudah mengkambing hitamkan orang lain [Tak Gu].
Kakek : “Jika kau tidak punya kepercayaan diri bahwa kau bisa menunggu waktu 2 tahun itu, kau boleh pergi kapanpun kau suka. Tapi, aku tidak akan mencegahmu”.
 
Setelah memberi pelajaran pada Ma Jun, kakek lalu pergi dari dapur itu, meninggalkan Ma Jun yang menggumam marah,”Kau memintaku untuk membusuk di tempat ini selama 2 tahun?” , tapi dia langsung teringat perkataan Presdir tempo hari [Apakah kau percaya diri? Apakah kau percaya bahwa kau bisa mendapatkan pengakuan Guru?] (rasakan Ma Jun!! itu hukuman buatmu tauuu)
Presdir menelepon ke rumah untuk menanyakan keadaan Ja Rim. Nyonya Seo yang mengangkat telepon itu menjawab kalau Ja Rim sudah baik-baik saja, Nyonya Seo sedang senang dan dia meminta suaminya untuk pulang lebih awal karena mereka akan berpesta. Presdir bilang kalau dia akan pulang terlambat karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Nyonya Seo memohon karena anak mereka sudah pulang dari penjara dan dia ingin merayakannya dengan makan bersama seluruh keluarga. Presdir mengatakan kalau dia tetap tidak bisa dan hanya menitip salam untuk Ja Rim, Presdir lalu menutup telepon. Mood Nyonya Seo langsung memburuk dan menyuruh Bibi Gong untuk membatalkan hidangan Prancisnya. Bibi Gong lalu bertanya takut-takut,”Apa yang harus saya lakukan dengan makanan untuk upacara peringatan? Minggu depan adalah peringatan kematian almarhumah Nyonya Besar, jadi…” Nyonya Seo yang sedang marah langsung memotong perkataan Bibi Gong dan menyuruh Bibi Gong yang mengatur semuanya, baik itu ulang tahun almarhum nenek maupun upacara peringatan kematiannya. Nyonya Seo tidak mau mengurusi semua itu karena saat nenek masih hidup, nenek tidak pernah memperlakukannya seperti seorang menantu. Maka dari itu, setelah nenek meninggal pun dia juga tidak akan berlaku selayaknya menantu pada nenek. Bibi Gong melihat Nyonya Seo yang melangkan pergi dan mengeluh, aigoo… (emang bener-bener menantu durhaka dia! huftt)
Nyonya Seo masuk ke kamar (dia sakit kepala, hihihi...tapi kok kasian juga sih sebenernya) dan melihat-lihat surat-surat untuknya. Dia membuka sebuah surat yg bertuliskan “kepada : Nyonya Muda” dan isi surat itu membuatnya shock tak percaya. Nyonya Seo bertanya pada Bibi Gong tentang surat itu dan memastikan tidak ada orang lain yang menyentuh suratnya sebelum dia. Bibi Gong bertanya pensaran apakah ada sesuatu yang salah. Nyonya Seo bilang tidak ada apa-apa dan menyuruh Bibi Gong melanjutkan pekerjaannya. Nyonya Seo membuka lagi kertas surat itu yang ternyata bertuliskan “PEMBUNUH”, Nyonya Seo ketakutan.
 
Telepon di kantor Presdir terus bordering, tapi tidak ada yang mengangkat. Rupanya, presiden sedang keluar, Manager Han lalu mengangkat telepon itu dan ternyata si penelepon adalah Jin Gu. Jin Gu langsung bicara panjang lebar, dia tidak tahu kalau yang mengangkat telepon bukan Presdir sendiri melainkan Manager Han, Jin Gu : Ini aku, Presdir. Aku Choi Jin Gu. Apa anda mengingatku? Aku tidak punya waktu lagi untuk ragu-ragu, jadi aku segera menghubungi Anda. Tak Gu, anak Kim Mi Sun yang tinggal di Cheongsan. Dia di penjara sekarang. Anda harus membantunya Presdir. Manager Han terkejut mendengar nama Tak Gu disebut.
 
Sementara itu, di sel penjara Tak Gu cemas bukan main memikirkan keadaan Yu Kyung. Yu Kyung sedang diinterogasi oleh polisi [yang ditinju oleh Tak Gu]. Polisi itu memeriksa resume Yu Kyung dan berkomentar Yu Kyung adalah CV Yu Kyung sangat mengesankan meskipun dia berasal dari panti asuhan, tapi polisi itu heran kenapa seorang mahasiswa pintar seperti Yu Kyung bisa melakukan hal yang bodoh dengan mengikuti gerakan mahasiswa yang dilarang pemerintah. Yu Kyung berujar bahwa dia hanya ingin menunjukkan bahwa orang seperti dia [yang berasal dari panti asuhan] bisa mengubah dunia yang penuh dengan ketidak adilan. Polisi itu tersenyum meremehkan kata-kata Yu Kyung. Dia lalu member nasehat pada Yu Kyung, “Jangan mencoba untuk mengubah dunia. Jika kau masih merasa tidak adil dan frustasi, kau bisa berubah. Jika kau menjadi seseorang yang mempunyai [kekayaan], maka dunia akan berubah dengan sendirinya. Itulah hidup”. Yu Kyung terhenyak mendengar perkataan polisi itu. [kelak, kata-kata polisi inilah yang akan sangat berpengaruh terhadap jalan hidup yang dipilih Yu Kyung].
 
Manager Han menemui Jin Gu sesuai tempat perjanjian, Jin Gu terkejut melihat bukan Presdir yang datang. Manager Han menanyakan tentang Tak Gu, dia juga menjelaskan presdir sangat sibuk, jadi dia datang untuk menggantikan Presdir. Jin Gu tidak akan mengatakan apapun tentang Tak Gu kalau bukan Presdir sendiri yang datang. Manager Han menghentikan Jin Gu,”Aku dengar, panggilanmu adalah kincir angin dan seorang preman di Cheongsan. Dan kau merawat adik perempuanmu yang sakit. Sepertinya kau mengalamu hidup yang susah dan keras. Tidak perlu waspada terhadapku. Aku hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu mulai sekarang”. [Rupanya setelah mendapat telepon dari Jin Gu saat di kantor Presdir, Manager Han sudah menyelidiki latar belakang Jin Gu dan mencoba menggaet Jin Gu sebagai anak buahnya]

Akhirnya Tak Gu keluar juga dari penjara, dan Mi Sun sudah menunggunya di depan pintu dengan muka cemberut, tapi sesaat kemudian Mi Sun tersenyum manis pada Tak Gu.
Ma Jun menguping pembicaraan Boss Yang dengan kakek tentang Tak Gu. Boss Yang mendapat telepon dari Mi Sun bahwa Tak Gu sudah dibebaskan. Kakek merasa senang, “itu bagus”. Boss Yang bertanya penasaran pada Kakek, mengapa kakek masih menjaga Tak Gu di PBB, bahkan kakek memberikan jaminan yang besar agar Tak Gu bisa dibebaskan dari penjara, apakah Tak Gu layak mendapatkan semua itu. Kakek menjawab bahwa dia tidak tahu apakah Tak Gu layak atau tidak, tapi dia penasaran, penasaran apakah yang akan terjadi pada Tak Gu di masa depan.
Ma Jun semakin iri pada Tak Gu setelah mendengar perkataan Kakek tadi, dia teringat lagi betapa Presdir dan Yu Kyung sangat menyukai Tak Gu,”Bagaimana? Kenapa? Kenapa semua orang menyukainya seperti itu? Kenapa? Kim Tak Gu… apa kau benar-benar hebat? Benarkah?”. Ma Jun tersenyum licik, dia memikirkan suatu rencana untuk membuat Tak Gu menderita. (udah firasat buruk nih)
Di toko PBB, Mi Sun menyodorkan tahu putih pada Tak Gu dan menyuruh Tak Gu untuk memakannya. Tak Gu diam, tidak juga mengambil tahu itu. Mi Sun menyuruh Tak Gu untuk makan tahu itu agar bisa menghilangkan kesialannya. [di Korea memang ada tradisi makan tahu bagi orang yang baru keluar dari penjara, karena mereka menganggap bahwa itu bisa menghilangkan kesialan, tapi aku masih heran juga, emang hubungannya apa ya? ko bisa ngilangin kesialan] Tak Gu bahkan tidak memandang tahu itu, tapi dia malah bilang,”Itu terakhir kalinya. Pukulan yang aku keluarkan di depan Yu Kyung. Itu adalah pukulan terakhirku”, tekad Tak Gu. Tak Gu lalu bangkit dan mengambil tas yang disimpannya di PBB. ”Apa itu?”, tanya Mi Sun. “Barangku yang tertinggal di kedai kopi [di Incheon]” Tak Gu mencari sesuatu di dalam tas itu dan mengambil sebuah bingkai foto, fotonya dan ibunya saat Tak Gu masih kecil. Dia menyodorkannya pada Mi Sun agar Mi Sun bisa melihat.
Tak Gu : Itu adalah ibuku. Nama ibuku juga Mi Sun, Kim Mi Sun. Ibuku mengatakan hal yang sama seperti yang kau katakan bebarapa waktu lalu. [Kekerasan seharusnya menjadi pertahanan terakhir. Itu baru lelaki sejati] Aku tidak akan pernah lagi menggunakan kekerasan. Aku bersumpah atas nama ibuku.
Mi Sun kali ini mengerti kalau ternyata Tak Gu meninggalkan PBB malam lalu adalah untuk mengambil tasnya. Tak Gu mengiyakan, dia tidak bilang jujur kala itu karena dia pikir Mi Sun tidak akan percaya padanya kalau dia tidak menunjukkan foto itu sebagai bukti. Tak Gu : Meskipun aku tidak menggunakan kekerasan, aku pikir aku masih bisa menang dalam hidup ini. Mi Sun tersenyum senang dan membenarkan kata-kata Tak Gu. Setelah menyelesaikan salah pahamnya, Tak Gu lalu makan tahu putih tadi dengan rakus.
Mi Sun menenangkan Tak Gu,”Jangan khawatirkan Yu Kyung, dia akan baik-baik saja”. “Jika Yu Kyung bisa dibebaskan dengan selamat. Aku bisa melakukan apapun”, kata Tak Gu pedih. [sepertinya] Mi Sun merasa sedikit cemburu dengan kata-kata Tak Gu barusan. Tak Gu tersenyum dan berterima kasih atas perhatian Mi Sun, Mi Sun balas tersenyum pada Tak Gu. (Aahhh… akhirnya mereka berdua baikan juga…)
Ma Jun menampakkan diri dan memanggil Tak Gu untuk bicara berdua di luar. Ma Jun berkata kalau dia bisa membantu Tak Gu untuk membebaskan Yu Kyung, tentu saja Tak Gu langsung bersemangat. Tapi Ma Jun juga tidak akan membantu secara cuma-cuma karena dia punya syarat untuk Tak Gu.
Ma Jun : Mulai saat ini, kau harus serius berpikir tentang roti. Tidak bingung dan setengah hati. Keluarkan semua kemampuanmu dan lakukan yang terbaik untuk belajar tentang membuat roti. Kemudian, setelah 2 tahun kau akan bertanding melawanku. Dan selama 2 tahun itu, hapuslah semua hal tentang Shin Yu Kyung dari pikiranmu. Bahkan jika dia sudah bebas, berjanjilah kau tidak akan pernah bertemu dengannya. Jika kau akan bersaing denganku, pikirkan cara untuk menyelesaikannya.
Tak Gu kaget tak percaya dengan kata-kata Ma Jun. Dia juga tidak habis pikir dengan syarat tak masuk akal yang diajukan oleh Ma Jun, dan mengapa harus dirinya. Ma Jun bilang kalau dia hanya ingin tahu seberapa hebat Tak Gu meskipun hal itu memang tidak masuk akal, tapi setiap kali dia melihat Tak Gu, yang ada dalam dirinya hanya keinginan untuk bersaing dan mengalahkan Tak Gu.
Tak Gu sangat marah mendengar omongan Ma Jun, dia jelas-jelas menolak dan tidak akan melakukan semua hal itu. Dia tidak akan mau melupakan Yu Kyung selama 2 tahun karena Yu Kyung adalah orang yang sangat berharga untuknya. Tak Gu lalu melangkah pergi. Dan ternyata… Mi Sun mendengarkan semua pembicaraan kedua lelaki itu dari balik tembok.
Paginya, Tak Gu bingung memikirkan syarat Ma Jun. Dia tetap berpikir kalau semua yang diajukan Ma Jun tidak masuk akal. Tak Gu lalu teringat kata-kata Paman Gap Soo dan Jae Bok yang menyeramkan tentang orang yang dipenjara karena menentang negara. Tak Gu sangat-sangat bingung.
 
Malamnya, dia datang ke penjara dan memandangi jendela tempat Yu Kyung ditahan. Tak Gu menghentikan sebuah taksi yang lewat. Yu Kyung yang meringkuk di penjara dalam kegelapan, mendengar alunan musik Edith Piaf favoritnya. Rupanya Tak Gu menyewa taksi itu dan menyetel musik Edith Piaf agar Yu Kyung bisa tenang dan terhibur. (Huwaa....melting aku, Tak Gu so sweet bangetm so romantic) Yu Kyung mendengarkan lagu itu dan seperti memandang ke kejauhan. Yu Kyung ingat Tak Gu.
 
Mata Tak Gu berkaca-kaca, dia benar-benar tak tega dan akhirnya memutuskan untuk memenuhi semua syarat Ma Jun agar Yu Kyung bisa bebas dari penjara. Tak Gu mendatangi Ma Jun yang sedang beres-beres di dapur, Tak Gu menerima semua syarat Ma Jun.
Ma Jun gerak cepat, dia langsung menghubungi Manager Han dan memintanya untuk membebaskan temannya yang sedang di penjara bagaimanapun caranya.
 
Pintu sel Yu Kyung dibuka, Yu Kyung terbangun dan melihat Ma Jun berdiri di depan pintu itu. Tak Gu menunggu di luar penjara. Yu Kyung yang melihat Tak Gu langsung menghambur ke arah Tak Gu dan memeluknya. Yu Kyung bertanya bagaimana Tak Gu bisa ada di situ [dan kenapa dia bisa dibebaskan].
Ma Jun mengingatkan Tak Gu,”Aku sudah menepati semua janjiku sekarang, Kim Tak Gu”.
Tak Gu yang semula akan menyentuh wajah Yu Kyung mengurungkan niatnya, dia menurunkan tangannya dan menatap Yu Kyung dengan sedih dan perasaannya campur aduk. Yu Kyung bingung, dia bertanya pada Tak Gu,”Apa yang dia maksud? Janji? Janji apa?”.
Tak Gu menjelaskan dengan mata berkaca-kaca : Mulai sekarang, aku tidak akan bertemu denganmu untuk sementara waktu. Mulai sekarang, aku akan focus untuk belajar membuat roti selama 2 tahun. Jadi, setelah aku menjadi pembuat roti sejati, aku akan menemuimu lagi. Tak apakan?
Yu Kyung juga menahan air matanya,  “Tak Gu…”
Tak Gu sebenarnya tidak kuat lagi, dia juga tidak tega, tidak mau berpisah dengan Yu Kyung selama itu, tapi dia berusaha tegar. Tak Gu minta Yu Kyung juga menguatkannya,”Tolong katakan, itu tak apa kan Yu Kyung a?” Yu Kyung tak bisa berkata-kata, hanya mata mereka berdua yang saling menatap. Tak Gu menyambung lagi,”Itu hanya 2 tahun, kita sudah terpisah selama 12 tahun. 2 tahun akan berlalu dengan cepat. Itu akan terlewati dalam sekejap mata. Jadi…”
Yu Kyung memotong, dia ingin tahu apa yang dijanjikan Tak Gu pada Ma Jun, Yu Kyung berteriak meminta penjelasan. Tak Gu : Yu Kyung… Dalam kehidupanku yang tanpa ibuku, satu-satunya alasanku untuk hidup adalah dirimu. Mengerti? Makanlah dengan baik dan jangan sakit. Ya?(backsoundnya passs bangetss, geu saram)
Tak Gu tak bisa lagi menahan air matanya dan tidak kuat lagi memandang Yu Kyung. Tak Gu berbalik dan pergi, meninggalkan Yu Kyung yang juga menangis. Yu Kyung masih belum bisa terima, dia memanggil nama Tak Gu. Tak Gu yang mendengar namanya disebut Yu Kyung,menghentikan langkahnya… dan berbalik, jalan ke arah Yu Kyung dan langsung TETTTTT…. Ma Jun melihat pemandangan itu dengan benci.
Tubi Kontinyuuuutttt .......



Cre :  pelangidrama.blogspot.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

coretan yanni Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template