Sabtu, 08 Januari 2011

Bread love and Dream episode 8

[Sinopsis] Bread, Love And Dream Episode 8

Seluruh keluarga berkumpul diruang tengah bersama Ma Jun dan Tak Goo. Ujian akan segera dimulai.
Sementara itu disebuah gudang, presdir mendatangi bos gangster. “Kau tau anakku?tanya Presdir. “Kim Tak Goo” jawab bos. Presdir terkejut dengan jawabannya. “Dimana dia sekarang? tanya presdir. “Selama 6 minggu aku bagai dineraka, lihat lukaku ini” kata bos preman sambil menunjuk lukanya. “Katakan berapa biayanya, aku akan memberikan kompensasi yang kau inginkan” kata presdir. “potong salah satu kakimu atau beri aku kaki, apa kau bisa memberikannya?”kata bos preman. Presdir melihat preman itu dengan tajam menahan marah. “Aku akan berikan segalanya, katakan padaku dimana dia”teriak presdir. Semua kaget dengan teriakan presdir. Tiba-tiba pintu terbuka, segerombolan masuk dan siap menyerang.
Kembali ke rumah kakek. “Apa yang kakek perintahkan untuk kami lakukan?” tanya Tak Goo. “Aku mengatakan padamu untuk mengikuti tes. Tak Goo tertawa,,”Kakek” bentak Tak Goo. “berani-beraninya kau membentak didepan gurumu” kata ayah Mi Sun. “Aku ke sini untuk mencari orang yang ingin aku temui, setelah itu aku akan pergi” kata Tak Goo. “hanya ada 2 cara untuk masuk rumah ini, kau membeli roti atau belajar membuat roti, mana yang kau pilih?tanya kakek. “Membuat roti” jawab Tak Goo. “Untuk dapat belajar membuat roti di sini, kau harus melewati tes terlebih dahulu.” Kata kakek. Tak Goo akhirnya menurut.
Mi Sun mengambil adonan yang akan digunakan tes. Setiap peserta tes diharuskan mencocokan adonan yang dengan kue yang telah jadi. Ma Jun memulai dengan mencicipi satu demi satu adonan, sedangkan Tak Goo hanya melihat adonan dan tidak melakukan apapun.
Manager Han berlari ke rumah sakit. “presdir apa kau tidak apa-apa? Aku dengar kau terlibat perkelahian, bagaimana kau bisa datang ketempat berbahaya seperti itu” kata manager Han. Presdir terdiam sejenak kemudian menjawab bahwa dia mencari Tak Goo. “seharusnya anda memberitahuku dari awal, aku akan mencari Tak Goo”. “jika aku memberitahumu apa kau akan menemukan Tak Goo dengan tulus” kata presdir. “Apa presdir meragukan ketulusanku, selama 30 tahun ini aku selalu melakukan apapun sesuai perintahmu” ucap manager Han. mereka saling menatap, predir kemudian pergi.
Manager Han pergi ke sebuah gudang. Dan menemui seseorang yang telah babak belur. Ternyata orang itu adalah bos preman yang ditemui presdir. “Aku tidak menyangka kalu anak itu sangat terkenal, apa yang kau ingin berikan padaku, jika orang tadi akan memberikan kakinya, lalu bagaimana denganmu, apa kau akan memberiku gedung” kata preman itu santai. Preman itu dipukul lagi hingga ia mngeluarkan darah dimulutnya. “aku tidak akan bernegosiasi dengan orang sepertimu, dan aku tidak akan mengasihimu, jangan buang waktumu beritahu aku dimana Kim Tak Goo” kata manager Han sambil memegang wajah preman itu. Mereka saling menatap.
Setelah menutup tokonya, ibu Mi Sun Masuk rumah untuk melihat tes yang dilakukan kakek. “Apa yang telah terjadi?”tanya ibu Mi Sun. “anak itu sangat aneh, dia belum mencicipi adonan itu, yang dia lakukan hanya menciuminya.”kata Jae Bok.
Waktunya memberikan jawaban, Mi Sun bertugas mengumpulkan jawaban mereka. Ma Jun telah memberikan jawabannya namun tidak dengan Tak Goo, dia masih saja menciumi adonan itu. “Hei apa yang kau lakukan, jika kau tidak menuliskan jawabanmu dalam 5 detik kau akan kehilangan kesempatanmu” kata Mi Sun. “Baiklah aku akan menuliskannya” kata Tak Goo kesal.. Mi Sun komat kamit gak jelas sambil ngeliatin Tak Goo.
Setelah Mi sun mengambil jawaban Tak Goo, ia lalu memberikannya pada kakek (kakek itu biasanya di panggil mister palbong). Kakek mengecek jawaban mereka satu persatu dengan seksama. “Siapa yang menulis nomor 4? Tanya kakek. “Saya” jawab Ma Jun. “Coba jelaskan” pinta kakek. “roti ini memiliki aroma yang masam, tetapi untuk yang selanjutnya jauh lebih lembut dan memiliki rasa yang sangat kuat, ini bau seperti adonan yang telah dibiarkan selama 50 jam, itu sebabnya aku memilih nomor 4” kata Ma jun percaya diri. Semua keluarga Hong tersenyum bangga.
Pandangan kemudian mengarah ke arah Tak Goo. “Bagaimana dengan nomor 5? Tanya kakek. “Aku tidak menulis angka 5” jawab Tak Goo. “Apa maksudmu? kau menulis angka 5” kata kakek sambil melihatkan jawaban Tak Goo. “Maksudku bukan nomor 5, namun jawabanku adalah kelima adonan ini” jawab Tak Goo. Semua orang yang mendengar jawaban Tak Goo mulai berpikir.
“Bagaimana jawabanmu bisa kelima adonan?” Tanya kakek. “Aku tidak yakin, namun semua adonan ini memiliki bau yang sama, setiap adonan memiliki tingkat keasinan dan kemanisan yang berbeda tetapi dasar semua adonan tidak jauh beda dengan roti, benarkan?” jawab Tak Goo. Semua orang tertegun dengan jawaban Tak Goo.
Tiba-tiba kakek tertawa. “Jawaban dari pertanyaan ini adalah adonan nomor 4” kata kakek. Ma Jun tertawa tipis. “itu jawabanmu kan Tae Jo? Tanya kakek. “ya guru” jawab Tae Jo. “Kebanyakkan orang memilih nomor 3 karena memiliki kemiripan yang sama tetapi kau mengetahuinya setelah merasakannya. Selama 5 tahun ini, kau orang keempat yang menjawab dengan benar. “Lalu apakah kau menerimaku untuk belajar disini? Tanya Ma Jun. “Tentu saja, datanglah lagi besok” kata kakek. Semua orang senang terutama Ny. Yang.
Pandangan kakek kini mengarah ke Tak Goo. “Kau juga, datanglah lagi besok” kata kakek. Semua orang terkejut dengan keputusan kakek. “Namun kau bilang jawabannya dalah nomor 4” seru Tak Goo. “Jawabannya memang nomor 4, tetapi jawabanmu juga tidak salah, sebenarnya semua adonan yang ada dihadapanmu terbuat dari bahan yang sama, alasan mengapa rasanya berbeda adalah karena lama fermentasinya berbeda, kau mengetahuinya tanpa merasakannya namun hanya dengan baunya, kau adalah orang pertama yang melakukan ini sejak ujian ini dimulai” kata kakek.
Lalu aku ini lulus atau tidak? Tanya Tak Goo. “Kau lulus” jawab kakek. Semua orang terkejut dengan keputusan kakek tak terkecuali Ma Jun. Sementara itu Tak Goo sangat senang.
Ujian selesai, kakek bergegas bangun dan pergi ke kamar, “aku belum menanyakan namamu sejak kemarin, siapa namamu? Tanya kakek. “Namaku Kim Tak Goo” kata Tak Goo dengan semangat. Betapa terkejutnya Ma Jun mendengar hal itu.
Kakek pergi ke kamar diikuti oleh tuan Yang, Gap So dan yang lainnya. “Ayah aku mohon pertimbangkan lagi” kata tuan Yang. Ny. Yang pun tutut memohon. “ratusan kandidat yang bertalenta ingin masuk bakery kita, tetapi ayah menolak mereka semua dan sekarang malah menerima orang yang tidak kompeten, aku tidak mengerti ayah” kata Tuan Yang. “Kapan aku memilih seseorang hanya dengan basic dan skill? Kau In Mok (nama tuan Yang) bagaimana denganmu ketika pertama kali bertemu? Kau Gap Soo, Jin Go, dan kau juga Jae Bok. Jika kalian memahamiku tinggalkanlah aku” kata kakek.
Tuan Yang berpikir sejenak. “Tetapi ayah bagaimana dengan Jin Go? Tanya Tuan Yang. “jika takdir mempertemukan mereka, kita tidak dapat menghindarinya. Bukankah begitu Jin Goo? Kata kakek. Tuang Yang terlihat cemas.
Mi Sun mengantar Ma Jun dan Tak Goo ke kamarnya. Dan menjelaskan semuanya, mulai dari kamar mandi hingga jam berapa mereka harus bangun. “Dimana kalau mau makan? Tanya Tak Goo. “Di restaurant bawah, waktu makan sangat fleksibel sesuai dengan jadwal bekerja” jawab Mi Sun tanpa melihat ke arah Tak Goo namun mengarah pada Ma Jun. “akankah baju kita dicuci?tanya Tak Goo lagi. “Ruang laundry ada di sebelah restoran jadi kau bisa menaruh bajumu disana” jawab Mi Sun.
“Hei kau, aku yang bertanya tetapi mengapa kau malah melihat ke arahnya” Tanya Tak Goo sambil menunjuk Ma Jun. Mi Sun tidak memperhatikan protes Ma Jun, dia tetap cuek. “kita bekerja mulai jam 3 pagi, jangan sampai terlambat karena ayahku itu sangat teliti. Guru Pal Bong adalah ayah ibuku, dan aku adalah anak perempuan dirumah ini, namaku Yang Mi Sun” kata Mi Sun tegas. “Hah apa katamu?namamu Mi Sun, apakah kau berpikir namamu itu cocok dengan wajahmu?kata Tak Goo tak sopan. Mi Sun masih bersabar dan tidak mempedulikan Tak Goo. “Bagaimana kalau namamu diganti Yang Fallen Soybeans? kata Tak Goo tanpa dosa. Mi Sun hilang kesabaran dia menendang kaki Tak Goo dan pergi.
Ma Jun dan Tak Goo masuk ke kamar mereka. “Apakah kau benar-benar dari jepang?apakah perempuan-perempuan disana hanya menggunakan kimononya disepanjang jalan?kau juga pasti menggunakan pesawatkan?kau pasti bisa melihat awan dengan jelas, awan itu lembut bagai katun bukan”. Tiba-tiba Ma Jun membanting pintu lemarinya, Tak Goo kaget dan menghentikan ocehannya.
“Wanita korea tidak hanya menggunakan Hanbok, dan bagimana bisa awan bisa lembut seperti katun, tidakkah kau memperlajarinya di SD, awan itu gumpalan embun, tidakkah kau sekolah?” seru Ma Jun. “Haa, aku tidak sekolah, aku di DO saat SD, sebenarnya ada seseorang yang akan aku temukan, ibuku hilang, tempat di Korea sudah ku kunjungi selama 12 tahun namun aku belum menemukkannya.” Jelas Tak Goo. Mendengar hal itu Ma Jun mengepalkan tangannya.
“Ada beberapa peraturan untukmu agar kita tetap bisa berbagi diruangan ini, pertama jangan memulai percakapan semaumu, kedua jangan berpura-pura ramah, dan yang ketiga aku tidak suka kau membicarakan tentang kehidupanmu jadi kau jangan banyak omong” kata Ma Jun pada Tak Goo. Kemudian meninggalkan Tak Goo
“Hei Tae Jo, jangan anggap aku ini kompetitormu, aku kesini hanya untuk bertemu seseorang, setelah aku menemuinya aku akan pergi segera, jadi jangan khawatir” kata Tak Goo. Ma Jun kemudian pergi.
Ma Jun pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya, dia teringat ketika kecil, manager Han mengatakan bahwa ia mengirim Tak Goo ke suatu tempat, dan dia tidak akan pernah kembali mengganggu kehidupan Ma Jun lagi. “Lalu mengapa dia kembali lagi, dasar pengemis” teriak Ma Jun sambil memukulkan tangannya ke kaca. Sementara itu Tak Goo menikmati malamnya ditempat tidur. Di lain pihak terdapat mata-mata suruhan manager Han yang mengawasi toko Pal Bong.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

coretan yanni Copyright © 2009 Cookiez is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template